Minggu, 19 Oktober 2014

Road to Almamater (part 1)




17 oktober 2014( Edisi Formal )
 


“Dan seperti biasa kami pun terlunta-lunta pada akhirnya”
                Perjalanan dimulai pukul 16.30 WIB. Kami melakukan perjalanan menuju stasiun Buaran menuju stasiun Duri. Rencananya, kami akan pergi ke almamater tercinta yang letaknya amat jauh dari hiruk pikuknya perkotaan.
Pondok Pesantren La Tansa...
Terkadang aku merasa heran dengan orang-orang yang tidak pernah mendengar nama ini. Tapi sudahlah, opini orang-orang memang tidak terlalu penting. Bahkan beberapa orang ada yang meremehkan perjalanan kami ini. Katanya sih hanya membuang waktu, tenaga dan uang. Memang, untuk mendapatkan sesuatu yang berharga, diperlukan sebuah perjuangan dan pengorbanan, bukan begitu?
Dan di stasiun Tanah Abang kami bersua. Bingung untuk melanjutkan perjalanan menuju Rangkasbitung yang kala itu waktu menunjukkan pukul  17.30 WIB. Kami terlambat menaiki kereta. Hanya tujuan Maja saja, itupun masih satu setengah jam lagi. Kereta menuju Maja datang pukul 19.00 WIB, menurut petugas yang berjaga disana.
“Dan seperti biasa kami pun terlunta-lunta”
Dengan segala perasaan bimbang yang ada, kami duduk menunggu kereta jurusan Maja datang. Kami berusaha mendapatkan informasi dari orang-orang terdekat. Dan sampailah kami pada sebuah keputusan.
Tangerang...
Kami kembali bertanya pada petugas perihal keberangkatan kereta menuju stasiun Duri. Untunglah saat itu kami bergerak cepat, terlambat satu menit saja bisa memperparah keadaan. Kami naik ke dalam kereta tujuan stasiun Duri. Dilanjut dengan transit menuju kereta arah stasiun Tangerang. Kami semua dapat tempat duduk, perlahan pikiran kami mulai tenang. Dan rencana perjalanan menuju almamater tercinta pada hari itu pun batal. Kami terpaksa harus bermalam di Tangerang, dirumah salah satu dari kami bertiga.
“Kami masih terlunta-lunta”
Tangerang. Kami tidak menyangka berada dalam salah satu angkot yang berada di kota Tangerang. Gurauan-gurauan kami tetap terasa menyenangkan. Kami bergurau bahwa saat itu sudah berada di Rangkasbitung. Mungkin supir angkot yang kami tumpangi sedikit heran dengan pembicaraan kami yang ngelindur. “Di Rangkas ada Giant loh!”, “Dirangkas kok ramai yah?”
Gang Daido...
Kami berjalan menyusuri gang berliku dengan penerangan yang sangat minim. Sambil sesekali menyeruput minuman yang kami beli. Kami masih bisa bersenda gurau sampai akhirnya ada suara menyalak yang terdengar dari salah satu rumah warga. Anjing rupanya.
“Anjing!!!!”
Kami berlari sekuat tenaga. Minuman yang aku pegang sampai terlepar entah kemana. Mungkin karena kami terlalu kaget karena mendengar suara anjing menyalak tiba-tiba. Ternyata anjing galak itu tidak mengejar, hanya menggertak saja. Dan kami pun tertawa saat sudah merasa aman. Perjalanan yang sebenarnya cukup menyedihkan.
Tapi ini tidak menyedihkan. Melainkan sebuah pengalaman unik yang sangat mendebarkan sekaligus menyenangkan. Mungkin kami memang sedikit kecewa karena batal menuju almamater pada hari itu, tapi semua terhapus dengan pengalama unik ini. Toh pada akhirnya kami pergi kesana juga, meski bukan hari itu.
Pengalaman bukanlah sesuatu yang dapat dibeli dengan mudah.Dan untuk mendapatkan pengalaman tak terlupakan dibutuhkan alat tukar yang mahal. Kami mendapat pengalaman menyenangkan seperti ini, walaupun bayarannya adalah batalnya pergi ke almamater. Tapi kami tak menyesal, toh kami juga dapat mengambil hikmah dari segala kejadian. Kami jadi lebih bisa menghargai waktu bukan? Dengan pengalaman seperti ini kita bisa jadi orang yang disiplin dan bertanggung jawab.
Bukan begitu?
Tapi...
“Kami ( 3 semprul-semprulan ) masih akan terus terlunta-lunta—“

0 komentar:

Posting Komentar